TRIBUNJATENG.COM – MENDAPATKAN penghargaan skala nasional tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Membanggakan juga bagi keluarga, kampus bahkan Provinsi Jawa Tengah.
Itulah prestasi DR Ir H Nugroho Widiasmadi, MEng dosen kreatif dan inovatif Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang yang mendapatkan Penghargaan Kalpataru 2023 dari Menteri Lingkungan Hidup.
Nugroho mendapatkan penghargaan Kalpatru kategori pembina lingkungan.
Tentunya penghargaan tersebut tak mudah diraih, namun dibutuhkan dedikasi dan penelitian jangka panjang sehingga membuahkan hasil cemerlang.
Doktor Nugroho Widiasmadi hadir di studio Tribun Jateng dalam program Tribun Topic menceritakan panjang lebar dan kiprahnya dalam menjaga lingkungan hidup.
Video tayang di media sosial Tribunjateng, dan kali ini disajikan kepada pembaca Tribunjateng.com serta pembaca koran cetak Tribun Jateng yang disadur oleh wartawan Budi Susanto. Berikut petikan wawancaranya.
– Apa yang menjadi penyemangat sehingga memperoleh Penghargaan Kalpataru 2023?
Sejak lahir saya punya naluri untuk mencintai lingkungan. Lingkungan juga menjadi guru bagi saya. Bahkan saat kecil saya sering lupa waktu jika belajar dengan alam. Berangkat dari hal tersebut, saat beranjak dewasa saya memikirkan bagaimana manusia tercipta dan punya peranan serta tanggung jawab untuk lingkungan.
Apalagi saya menyadari lingkungan sekitar saya mengalami perubahan yang tidak semestinya. Saya bandingkan saat saya kecil dan dewasa, perubahan pada lingkungan tersebut semakin mencolok. Dulu setiap malam ada kunang-kunang, bahkan terdengar orkestra kodok dan binatang di sawah. Kini hal tersebut jarang dijumpai apalagi di wilayah perkotaan.
Apa saja yang berubah Pak?
Dari hal tersebut saya tergerak, karena saya sadar ada yang hilang dan berubah. Degradasi alam juga terjadi begitu luar biasa. Kondisi tersebut harus digantikan dan saya berusaha untuk menjaga kondisi lingkungan. Kalau bisa mengembalikan kondisi seperti dulu.
Selain kondisi lingkungan berubah, faktor ekonomi juga menjadi dorongan bagi saya. Karena Indonesia terkenal sebagai negara agraria, namun setiap tahun impor bahan makanan. Dari hal itu saya analisis, ternyata ada regulasi yang salah. Meski demikian saya tidak bisa menyalahkan begitu saja dan saya mulai melakukan riset untuk mengurangi kerusakan lingkungan.
Adakah inspirasi sehingga tergugah fokus pemulihan lingkungan?
Guru sepiritual saya menuntun langkah saya melalui surat An-Naba dalam Al Quran. Sebagai muslim saya baca surat tersebut, di ayat 16 ditunjukkan parameter alam yang terkontrol secara baik. Saya percaya, jika ditunjukkan dalam Al Quran berarti hal tersebut adalah petunjuk.
Petunjuk tersebut saya kongkritkan, pasalnya di surat tersebut ada kalimat alfafa. Kebetulan saya diberi kesempatan belajar di India dan saya cari di mana itu alfafa. Ternyata ada di perbatasan Pakistan dan Iran, di sana banyak alfafa namun hanya sebatas taman liar tidak dimanfaatkan. Alfafa di sana tidak dimanfaatkan, namun saya ambil ternyata alfafa seperti rumput liar.
Nugroho Dalami Alfafa dalam Surat An-Naba Juz Amma
– Begitu temukan alfafa lalu bagaimana Pak?
Alfafa saya budidayakan di Indonesia sejak 2007, namun tidak berjalan mulus karena mengalami kegagalan. Namun hal tersebut membuahkan hasil dengan turunan ke-12 tanaman alfafa. Ternyata tanaman alfafa sangat luar biasa, karena ada mikroba rhizobium di akarnya. Rhizobium ternyata penggerak alam untuk menjadi baik.
Dibantu dengan teman teman di UGM, saya memperbanyak rhizobium yang ada di tanaman alfafa. Jika pengomposan oleh bakteri memerlukan waktu 21 hari, dengan rhizobium hanya butuh waktu 2 malam saja.
– Apakah sudah uji coba rhizobium sebagai pengurai tersebut?
Kami uji 3-5 tahun, lalu kami ajarkan ke petani agar memudahkan penghijauan. Kemampuan mikroba tersebut sempurna dan tuntas mengurai makanan. Bayangkan saja semua biomassa menghasilkan pangan baik untuk tanaman binatang maupun manusia.
Inovasi tersebut akhirnya dilirik oleh Bank Indonesia, karena bisa membantu petani terkait mandiri pupuk, mandiri pangan dan konservasi tanah. Inovasi itu akhirnya dipakai Bank Indonesia dari 2012 hingga sekarang. Hal tersebut membuat saya mendapatkan penghargaan Kalpataru. Di Kota Semarang rhizobium sudah diterapkan pada 2012 melalui urban farming. Selamat dan terima kasih inovasi ya Pak. (bud/tribun jateng cetak)

