SEMARANG, Hajinews.id – Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) merancang roket electric ducted fan (EDF) multifungsi yang dapat digunakan untuk misi pengamatan, pemetaan, dan pengiriman obat ke daerah bencana atau terpencil yang sulit dijangkau menggunakan transportasi biasa.

Ditemui di Laboratorium Energi Unwahas, Ketua Tim Peneliti Roket EDF Unwahas Tabah Priangkoso menyebutkan, roket EDF memberikan tingkat keselamatan yang lebih tinggi karena menggunakan baterai sebagai sumber energi penggeraknya, sehingga menurunkan risiko kebakaran dan ledakan.

Roket EDF juga memiliki konstruksi yang sederhana sehingga mudah dibuat,” jelasnya. Setelah menjalankan misi, roket diprogram untuk kembali ke tempat peluncuran sehingga dapat digunakan kembali pada misi berikutnya.

Anggota peneliti Unwahas Muhammad Dzulfikar menjelaskan, penelitian roket EDF dilakukan selama satu tahun sepanjang tahun 2022 sebagai tahap awal pengembangan roket EDF tersebut melibatkan 10 mahasiswa dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Proyek Independen.

Dzulfikar menambahkan, mahasiswa yang terlibat mendapatkan pengalaman penelitian dalam bidang aerodinamika, sistem kendali, maupun material roket dan memperoleh rekognisi 20 SKS per semester. Ia juga menyebutkan, program MBKM meningkatkan kompetensi mahasiswa agar lebih siap memasuki dunia kerja.

Anggota peneliti lainnya dari Universitas Diponegoro Joga Dharma Setiawan menambahkan, roket EDF juga dapat difungsikan sebagai misil dalam bidang pertahanan dan keamanan. Ia menambahkan, roket EDF dapat diprogram untuk menemukan dan mencapai sasaran sesuai program yang diinput ke dalam sistem kendali roket. Meskipun demikian, perancangan roket EDF memberikan tantangan. “Tantangan utama dalam pengembangan roket EDF adalah berat baterai. Jika jangkauan roket diperbesar, maka roket semakin berat sehingga mengurangi porsi berat muatan,” katanya.

Dia berharap, di masa depan tersedia baterai yang lebih ringan dengan kepadatan energi yang lebih tinggi. Dengan demikian, roket akan memiliki jangkauan dan kecepatan yang lebih besar.

Empat mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Unwahas yang menjadi peserta Program MBKM Proyek Independen Roket EDF ini, Dimas, Dedi, Falih, dan Reza, menyatakan bahwa program MBKM ini memberikan manfaat yang besar bagi mahasiswa.

“Kami jadi lebih terampil dan siap dalam menghadapi tantangan teknologi,” kata Dedi.

Sementara itu, CEO Scratch Robotic yang menjadi mitra penelitian ini, Prima Adhi Yudhistira, mengatakan bahwa program ini dapat menjadi penghubung antara kebutuhan dunia industri dengan perguruan tinggi karena kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan industri. Scratch Robotic sendiri merupakan perusahaan yang memiliki pengalaman dalam produksi drone untuk berbagai fungsi di udara, darat, maupun air.

Tabah mengungkapkan, penelitian dengan tema “Rancang Bangun Roket Electric Ducted Fan dengan Sistem Kendali Aktif dan Sistem Pendaratan Efisien” tersebut didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Keuangan (LPDP) Kemenkeu bekerjasama dengan Direktorat Sumber Daya Ditjen Dikti Ristek Kemendikbudristek melalui Program Riset Keilmuan.

Progam ini dilaksanakan dengan melibatkan mahasiswa dan didukung Scratch Robotic sebagai mitra Tim Peneliti yang ikut serta mendanai penelitian dan melatih mahasiswa dalam program ini.

Share this :